juvenile xanthogranuloma

apaan tu?

saya juga gak ngerti kalo gak googling :p
jadi intinya, JX ini bisa self-healing, tidak berbahaya, tidak perlu diobati.
Cuman, penampilan si JX ini sangat mengganggu keindahan wajah tampannya Nala (hueks…anak sendiri mah emang paling cakeeeep). Bintik pertama timbul di wajah Nala pas kita mudik Makassar bulan Januari kemaren. Gak sembuh, tapi kok malah nambah di kuping dan pipinya. Nyampe Jakarta, bikin jadwal untuk konsultasi ke salah satu DSA di Carolus. Modal kepercayaan ya, karna Balkesmas-nya Carolus itu oke banget, tapi ternyata poliklinik anak-nya (menurut saya) masih kalah dibandingkan si Balkesmas. Pengen ketemu dr. Utami Roesli, beliau lagi cuti. Dokter lain udah penuh. Ya udah, kita daftar ke dokter T aja, yang antriannya cuman dikit. Sejak awal pak Dokter ini agak meragukan ya. Beliau sudah lumayan berumur, agak irit komunikasi dengan pasien. Setelah Nala diperiksa, gak jelas diagnosisnya apaan, langsung hajar ngasih antibiotik sama salep gentamicin.
Saya (penentang antibiotik untuk Nala) langsung pesen sama ayahnya biar antibiotiknya gak usah ditebus. Salepnya bolehlah. Beberapa hari, salep itu coba kita oleskan ke Nala. Gak ada perubahan juga.

Trus browsing lagi nyari dokter kulit yang biasa menangani anak. Nemu di RSCM, bagian dermatologi pediatrik, Prof. Siti Aisyah. Sayangnya saat pertama kali kita kesana, beliau sedang gak ada. Kami cuman ditangani oleh dokter spesialis kulit asisten beliau. Tapi untuk kualitas pelayanan, mereka nomer 1. Nala diobservasi dulu selama seminggu, tidak diberi obat apa-apa, menenangkan kami orangtuanya yang udah capek menjawab pertanyaan orang2 “itu kenapa?” , dan menjadwalkan konsuktasi khusus dengan Prof. St. Aisyah hari Senin 11 April ini.
Tadi pagi saya kesana. Prof St. Aisyah ini ramah sekali, memotret JX di wajah Nala sambil bercanda, menjelaskan pada saya tentang JX ini dengan sangat mendetail, dan masih menyarankan untuk observasi lagi selama sebulan. Jadi, kami disuruh balik kesana lagi tanggal 9 Mei. Oh iya, untuk konsultasi tadi kami gak perlu bayar, karna hanya ingin menegaskan pendapat dari asisten beliau sebelumnya. Aaaah, saya puassss sekaliiii…

Moral of the story: jangan hanya bertahan pada satu opini dokter. Browse, browse, browse, malu kan kalo pegangannya gadget canggih tapi maenannya cuman Facebook sama Twitter doang, anaknya dicekokin antibiotik mulu. Kalo dokter meresepkan antibiotik, jangan langsung tebus. Bawa pulang dulu resepnya, baca, googling, baru nyari second opinion. Saya bersyukur sekali dulu gak nebus si antibiotik Cefat dari DSA Carolus itu.

One thought on “juvenile xanthogranuloma

  1. Assalamu'alaikum bunda Nala..salam kenal yaa, saya bundanya Althaf (nama saya dini),

    kebetulan suami saya nemuin blog nya Bunda Nala dan klo boleh saya mau minta sharing mengenai JX yg ada di Nala, karena kebetulan anak saya Althaf jg punya kelainan warna kulit putih di wajah dan badannya yg muncul sejak sekitar 4-5 bulan (skrg anak sy sudah 9 bulan).

    dan kebetulan lg saya dan suami sedang berniat mau ke prof. siti aisyah ini atas rekomendasi dr. anak saya. klo boleh tau, Nala dibawa ke prof. aisyah usia berapa bulan? bagaimana hasil dr konsultasi dengan prof. ini penanganan apa yg dilakukan untuk Nala?apakah dikasih obat? oya JX ini sama gak ya dengan yg disebut vitiligo?
    maaf sebelumnya klo saya sudah terlalu banyak tanya ya Bunda..karena terus terang saya sangat kawatir dengan bercak putih yg ada di wajahnya Althaf.

    terima kasih sebelumnya
    wassalamu'alaikum

    Dini (bunda Althaf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s