menyoal para tenaga kesehatan

Habis baca beberapa posting saya belakangan ini, kok kayaknya isinya misuh2 sama kalangan kesehatan mulu ya. Puncaknya kemaren, pas adek saya digituin sama DSOG yang berasa paling ahli sedunia. Bukan apa-apa, adek saya itu LDR-an sama suaminya. Suami-nya di Jakarta, kemaren itu dia nyetir sendiri ke RS karna gak ada yang bisa nganterin, eh lha kok sampe RS malah ketemu dokter yang kayak gitu. Padahal dia dokter hewan, yang selalu menyambut pasiennya dengan ramah, digendong, dipeluk, bahkan diajak dansa. Eh ini kok dokter menyambut sesama manusia gak bisa lebih ramah. Saya gak melihat apa susahnya mencoba melihat lewat USG, kalopun kantong kehamilannya belom kelihatan ya gak papa, mosok ya si adek bakalan maksa-maksa mesti harus keliatan tuh kantong.

Kasus kayak gini sudah sering sekali terjadi. Saya pernah nulis di almarhum blog Friendster dulu tentang perlunya kurikulum kedokteran ditambah dengan mata kuliah Sopan Santun Terhadap Pasien. Rasanya kok adem ya kalo kita masuk ke ruangan dokter disambut dengan senyum, eye-contact, tutur kata yang ramah, dan penjelasan medis yang bisa diterima oleh kalangan awam. Juga penggunaan obat yang rasional. Sejauh ini sih saya baru nemu sedikit dokter yang bisa seperti itu. Salah satunya DSOG saya di RSI Cemput Jakarta, dr. Oni Khonsa, SPOG. Setiap masuk ke ruangan dokter, beliau selalu mengucapkan salam, Assalamualaikum, menjabat tangan saya dan suami, menanyakan kabar kami, memeriksa dengan sangat ramah dengan diselipin humor, menjelaskan segala sesuatu dengan sangat sabar, bahkan “menantang” kami untuk mengajukan pertanyaan. Selesai diperiksa pun beliau mengucapkan salam, menjabat tangan, dan tersenyum ramah. Adem.

Ketika umur kandungan saya 5 bulan, kami liburan ke Makassar selama sebulan. Sebelum balik, saya menyempatkan diri kontrol ke salah satu DSOG di Makassar. Seperti biasa, saat di-USG saya selalu bertanya pada dokter tentang kondisi janin saya. Setelah bertanya macam2, tiba-tiba sang DSOG menjawab “Ah, ibu ini kebanyakan baca internet”. Padahal saya cuman bertanya bagaimana kondisi tulang belakang janin saya.

Masih banyak kok kisah lain tentang dokter yang melihat muka pasiennya pun gak mau. Masih lebih banyak lagi yang susah diajak diskusi tentang kondisi kesehatan pasiennya.
Dan masih sangat banyak yang memberikan obat secara overtreatment.

Jadi, maafkan saya kalo sepertinya saya agak gusar dengan para dokter ini. Saya cuman pengen ada perbaikan ke depan. Anda, para calon dokter, para residen, para konsulen mungkin bisa memperbaiki keadaan ini. Pasien itu seneng banget lho kalo dokternya ramah, bisa diajak diskusi, dan gak sembarangan ngasih antibiotik. Jangan mau kalah sama adek saya, dokter hewan yang bisa sangat care sama pasien-pasiennya.🙂

Untuk anda, para pasien kayak saya: yang sabar ya. Kalo gak sabar ya cari dokter laen :p. Jadi pasien jaman sekarang mah musti kudu harus pinter. Diresepin antibiotik cuman karna flu? Jangan tebus. Dijutekin di ruang dokter? Jangan dateng ke situ lagi. Gampang.

Udah ah next entry gak boleh misuh-misuh lagi. *emang kapan mo nulis entry baru, Yas?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s